Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-berkemeja-hitam-duduk-dan-menulis-771317/
Ngomongin soal menyekolahkan anak ke luar negeri, pastinya banyak dari kita sebagai orang tua yang sudah membayangkan skenario paling indah. Terbayang betapa kerennya melihat anak kita mandiri di negara orang, fasih berbahasa asing dengan aksen yang natural, dan kelak lulus dari kampus bergengsi yang membuka jalan karir mereka secara global. Tapi, di balik semua bayangan manis itu, ada satu tantangan psikologis raksasa yang sering kali luput dari persiapan kita: culture shock atau gegar budaya. Kemampuan seorang anak untuk bisa bertahan, beradaptasi, dan tetap waras di lingkungan yang seratus persen asing itu sama sekali tidak bisa dibentuk dalam waktu semalam layaknya sistem kebut semalam. Fondasi keluwesan mental ini harus mulai dicor sejak usia mereka sedini mungkin. Itulah mengapa, memilih lingkungan pendidikan pertama yang tepat menjadi sangat krusial. Bagi Anda yang berdomisili di timur ibu kota, memilih preschool jakarta timur yang memiliki lingkungan multikultural dan kurikulum global bisa menjadi langkah awal yang paling cerdas untuk mencegah anak mengalami syok budaya yang ekstrem saat mereka dewasa nanti.
Secara definisi, culture shock adalah perasaan cemas, bingung, hingga frustrasi yang muncul ketika seseorang tiba-tiba harus berpindah dan hidup di lingkungan budaya yang sama sekali berbeda dari tempat asalnya. Mengalami gegar budaya itu ibarat dilempar ke tengah samudra tanpa pelampung; pada awalnya kita mungkin merasa sangat antusias dan takjub melihat birunya air yang luas, namun tak lama kemudian kepanikan luar biasa melanda saat kita sadar bahwa kita tidak tahu cara berenang atau membaca arah arus di perairan yang sepenuhnya asing tersebut. Anak-anak yang seumur hidupnya terbiasa dengan kehangatan komunal khas Indonesia, di mana tetangga saling sapa dan selalu ada keluarga besar yang siap membantu, tiba-tiba harus berhadapan dengan budaya masyarakat Barat yang sangat individualis, serba cepat, dan sangat menghargai privasi. Perbedaan ekstrem inilah yang sering kali membuat pelajar internasional kita merasa terasingkan, kesepian, dan akhirnya kehilangan motivasi belajar.
Untuk memahami fenomena ini dengan lebih ilmiah, kita bisa merujuk pada teori klasik dari Kalervo Oberg, seorang antropolog ternama yang pertama kali memperkenalkan istilah culture shock pada tahun 1960. Oberg menjelaskan bahwa gegar budaya ini pasti melewati empat fase utama. Fase pertama adalah Honeymoon Phase atau fase bulan madu. Di beberapa minggu pertama kedatangannya, anak Anda akan merasa sangat excited. Semuanya terlihat luar biasa; udaranya yang sejuk, arsitektur kotanya yang instagramable, sampai makanan lokalnya yang terasa unik. Mereka akan sibuk memotret setiap sudut kota dan membagikannya di media sosial. Namun, euforia ini biasanya tidak bertahan lama.
Fase kedua adalah Frustration Phase atau fase krisis. Di sinilah realita mulai menghantam dengan keras. Anak mulai menyadari bahwa cuaca dingin yang awalnya terasa romantis ternyata membuat mereka rentan sakit. Mereka mulai kesulitan mencerna jokes atau candaan teman-teman lokalnya karena kendala referensi budaya. Mereka mungkin mengalami penolakan saat mencoba bergabung dengan kelompok tugas, atau merasa tersinggung dengan gaya komunikasi orang lokal yang terlalu to the point atau blunt. Di fase krisis inilah angka depresi ringan dan rasa homesick (rindu rumah) memuncak. Banyak pelajar yang jika tidak memiliki ketahanan mental yang baik, akhirnya memutuskan untuk menyerah dan pulang ke tanah air di fase ini.
Fase ketiga adalah Adjustment Phase atau fase penyesuaian. Jika anak berhasil melewati fase krisis tanpa menyerah, mereka akan mulai pelan-pelan beradaptasi. Mereka mulai memahami ritme kehidupan di sana, tahu di mana harus berbelanja bahan makanan yang murah, dan mulai berani berinisiatif memulai obrolan dengan teman sekelasnya. Terakhir, fase keempat adalah Acceptance Phase atau fase penerimaan. Di titik ini, anak tidak lagi sibuk membanding-bandingkan keburukan negara tempatnya belajar dengan kenyamanan di Indonesia. Mereka akhirnya bisa hidup berdampingan dengan budaya baru tersebut tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia.
Lalu, bagaimana caranya kita bisa membekali anak agar proses transisi dari fase krisis menuju fase penerimaan ini bisa berjalan lebih cepat dan tidak terlalu menyakitkan? Persiapan praktis sebelum keberangkatan adalah kuncinya. Pertama, ajarkan anak Anda untuk aktif membangun support system sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di negara tujuan. Dorong mereka untuk bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di kampus tersebut. Bertemu dengan sesama orang Indonesia yang senasib sepenanggungan bisa menjadi oase di tengah padang pasir. Namun, ingatkan juga mereka untuk tidak secara eksklusif hanya bergaul dengan orang Indonesia saja. Mereka harus memaksakan diri keluar dari zona nyaman untuk berteman dengan mahasiswa internasional lainnya agar wawasan mereka benar-benar terbuka.
Kedua, turunkan ekspektasi agar tidak terlalu perfeksionis. Sering kali pelajar kita stres berat karena mereka menuntut dirinya untuk langsung bisa berbaur 100% dan mendapat nilai A di semester pertama. Ingatkan anak Anda bahwa merasa kebingungan, tersesat saat naik kereta, atau salah paham saat memesan makanan di minggu-minggu pertama itu adalah proses belajar yang sangat normal dan malah akan jadi cerita lucu di masa depan. Ketiga, bekali mereka dengan life skills yang solid. Jangan biarkan anak Anda berangkat kalau mereka belum bisa masak nasi sendiri, belum tahu cara memisahkan baju putih dan berwarna saat mencuci, atau tidak tahu cara memanajemen keuangan bulanan. Keterampilan bertahan hidup dasar inilah yang akan menjaga tingkat stres mereka tetap rendah saat jauh dari rumah.
Sekarang, mari kita tarik mundur garis waktunya. Kita tidak bisa mengharapkan seorang anak remaja usia 18 tahun tiba-tiba memiliki pikiran yang terbuka (open-minded) dan mental yang sangat adaptif jika selama 15 tahun kehidupannya mereka selalu dikurung dalam lingkungan yang sangat homogen, kaku, dan penuh dengan dogma yang tidak boleh dipertanyakan. Di sinilah letak pentingnya peran pendidikan anak usia dini. Kemampuan untuk menerima perbedaan, berempati pada orang asing, dan keluwesan dalam memecahkan masalah adalah hasil dari latihan kognitif jangka panjang. Sebuah publikasi riset dari Center on the Developing Child di Universitas Harvard menyebutkan bahwa plastisitas otak atau kemampuan otak untuk beradaptasi dengan lingkungan baru berada pada tingkat paling optimal di masa kanak-kanak awal. Jika di masa usia emas ini anak sudah terekspos dengan lingkungan multikultural, otak mereka akan terbentuk untuk lebih fleksibel (cognitive flexibility).
Anak-anak yang sejak fase prasekolah sudah terbiasa berinteraksi dengan teman-teman dari latar belakang yang berbeda, dididik oleh pengajar native yang membawa nuansa budaya lain, dan diajarkan untuk menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, akan tumbuh dengan mindset bahwa dunia ini luas dan perbedaan itu adalah hal yang indah, bukan sebuah ancaman. Ketika tiba saatnya bagi mereka untuk benar-benar terbang ke luar negeri belasan tahun kemudian, otot adaptasi mereka sudah sangat terlatih. Mereka tidak akan mudah kaget atau shock saat melihat kebiasaan yang berbeda, karena alam bawah sadar mereka sudah memiliki bekal empati dan toleransi yang kokoh. Mereka menjadi warga dunia (global citizen) yang sejati, yang akarnya tetap kuat menancap pada nilai-nilai ketimuran yang santun, namun sayapnya siap mengepak lebar menembus batasan negara.
Mempersiapkan masa depan anak untuk bisa sukses melangkah di panggung internasional memang sebuah maraton panjang yang menuntut kesabaran, visi yang jelas, dan pemilihan lingkungan belajar yang sangat presisi dari pihak orang tua. Jangan biarkan impian besar Anda pupus hanya karena anak tidak memiliki kesiapan mental dan ketahanan karakter yang seharusnya sudah mulai dibentuk sejak mereka belajar mengeja huruf pertama. Jika saat ini Anda sedang berada dalam tahap mencari fondasi edukasi usia dini yang paling solid, yang tidak hanya berfokus pada kecerdasan kognitif tetapi juga kematangan emosional dan pembentukan karakter multikultural yang adaptif, maka berkonsultasi dengan ahlinya adalah langkah paling bijak yang bisa Anda ambil hari ini. Apabila Anda membutuhkan informasi mendalam mengenai kurikulum pendidikan usia dini berstandar global, atau membutuhkan bantuan dan panduan lebih lanjut terkait perencanaan pendidikan terbaik bagi buah hati Anda, jangan ragu untuk segera menghubungi tim representatif dari Global Sevilla. Kami dengan senang hati akan menyambut Anda, menjawab semua kekhawatiran Anda, dan siap menjadi mitra terbaik Anda dalam mengukir jalan kesuksesan yang gilang-gemilang bagi anak Anda di masa depan.
